Option For Love [Part 1]


.

Judul: Option For Love [Part 1]
Author: SweetLemon & Jeje's
Genre: Romance, School Life, Friendship.
Rating: PG15
Length: series


Main Cast:
Choi Minho (Shinee)
Lee Jinki as onew (Shinee)
Choi Jiho
Lee Jibyung


Other cast:
Temukan sendiri


Anyyeong :)
Ini ff pertama yang aku ketik, yang belum diketik gak tau deh ya nasibnya gimana. Semoga banyak yang baca dan suka, sori juga kalau ada typo kebiasaan pake bahasa singkat sih ;6
Cekidot!




           ~Option Love~
--------------------------------------
Ketika cinta pada pandangan pertama bertemu satu sama lain, akankah cinta itu berkahir sama seperti cerita dongeng? 






"Aishhhh...... Aku baru saja pindah sekolah dan sekarang sudah disuruh memilih kegiatan ekstra? Aku bahkan sama sekali tak mengerti pada apa yang seongsenim katakan padaku dikelas tadi, cepat sekali dia berbicaranya. Dengan otakku yang lamban ini mana mungkin bisa mencernanya hanya dalam beberapa menit?" keluh seorang yeoja berambut sebahu yang sedang berjalan di lorong sekolah barunya, tak henti-hentinya dia menghela nafas karena tak tahu harus berbuat pada lembar kertas yang  baru saja diberikan oleh gurunya tadi.


'Somdanghoon National Highschool Guide Map' begitulah yang tertulis pada kertas yang dipegang choi jiho ini, ia hanya gadis biasa yang menginjak kelas 2SMA pada sekolah yang tak bisa dibilang terlalu murahan ataupun kemahalan tapi cukup dengan kelebihan tanahnya hingga sekolah ini terlihat sangat besar dan mahal yah masih dikategorikan sekolah baru tapi sudah cukup bergengsilah, setidaknya kata nasional itu yang membuatnya ngeri akan kemampuan otaknya. 


Baru saja ia pindah minggu lalu ke sekolah ini beserta rumah tentunya karena ayahnya menang lotre dengan nilai yang menggiurkan entah dapat untung darimana tapi setidaknya lumayan untuk membantu ekonomi kelurganya. Dengan segera dijual rumahnya yang bisa dibilang agak bobrok dengan rumah baru yang sederhana dan nyaman. Sekarang ini orangtuanya sedang keluar kota dan ia hanya tinggal bersama neneknya


Semester baru sudah datang dan sekarang ia harus bergulat dengan pelajaran yang sudah tertinggal sekitar 3hari tapi teman untuk mengobrol saja dia belum dapat apalagi contekkan catatan? Jiho memutuskan untuk mengelilingi sekolahnya dahulu, mungkin ini akan mempermudahnya mencari tahu dan apa yang harus ia lakukan mulai sekarang di sekolah barunya. Dengan langkah kecil ia menelosori gedung sesuai dengan intruksi yang ia lihat pada peta.


Inikah yang namanya pria tampan atau jiho saja yang norak sepeti baru melihat laki-laki ganteng? Pandangannya tertuju pada laki-laki yang mungkin sebaya dengannya sedang bermain basket dengan temannya. Rambutnya yang agak panjang dan sedikit basah ujungnya memperlihatkan pemandangan yang sekilas bagi jiho itu sudah cukup seksi dan menggoda. Mata yang besar pada wajahnya yang terbilang kecil, walau aneh itu suatu daya tarik bagi jiho. Sampai kapan jiho akan memandangnya?


"tampannya lelaki itu...." gumam jiho dengan sendirinya di depan pintu gedung olahraga yang dapat ia intip dalamnya melalui dua kaca kecilnya. "hah?? Gawat! Aku datang bukan untuk ini ayo fokus fokus choi jiho! Kau tak pandai olahraga mana mungkin kau akan ikut ekstra ini hanya untuk seorang laki-laki??" gumal jiho dengan frustasi, ia kembali melanjutkan perjalanannya dengan langkah lari yang lebih besar tentunya.


"siapa anak tadi? Apakah dia anak baru itu?" tanya seorang yang sedang duduk di bangku penonton sambil mendribble bola basket"
"ya choi minho! Apakah kau melihatnya tadi? Aku tak melihatnya dengan jelas mungkin aku sudah harus pakai kacamata" teriak teman minho yang sedang minum.
"entah, aku belum bertemu dengannya, ayo pulang! kita ke toko kacamata!" ujar pria yang ternyata dialah yang diperhatikan jiho tadi, sayangnya ia tak sadar akan itu.


Jiho kembali melakukan aktifitas yang sempat tertunda tadi di gedung olahraga, sudah 3 ekstra yang ia lihat kegiatannya tapi tak dapat menarik perhatiannya, faktor tak tertarik dan ia memang tak pandai dalam bidang itu saja. Sekali lagi ia melihat laki-laki jangkung itu sedang keluar dari gedung sekolah bersama temannya melalui jendela lantai tiga. Benar juga ya, ini sudah waktunya pulang dan murid diizinkan pulang lebih awal dihari ini jika ia sudah selesai melakukan aktifitasnya di ekstra.


@Jiho room


"Kenapa dia tampan sekali? Aku jadi ingin menggambar wajahnya" dengan segera dikeluarkan buku sketsanya dan menggambar wajah lelaki tadi seperti apa yang diingat dalam benaknya. "Siapa namanya? Seperti apa orangnya? Kelas berapa dia?" Bertubi-tubi pertanyaan yang keluar dihujamkan jiho untuk dirinya sendiri, walau tak tahu jawabannya tapi jiho seperti ya senang untuk mempertanyakannya. "Mungkin aku harus mengambil kelas seni, aku ingin menggambar wajahnya lebih banyak lagi mengukirnya pada kayu mungkin? Hahahahahahha! Setidaknya aku tahu apa yang 


harus kulakukan besok dan aku harus mencari teman, harus! Sebaiknya aku tidur sekarang. Ahhh my beloved bed~" ujarnya sambil memeluk bantal anjingnya dan tertidur.


"Kau sudah mendapatkan jodohmu jihonnie, mungkin segera kau akan bertemu dengannya, appa usahakan minggu ini ya sayang" ucap laki-laki paruh baya dengan senyum sumringah terlihat di wajahnya. Tetapi tidak dengan lawan bicaranya "MWO??! Appa pikir aku sapi yang dijodohkan??" teriak jiho pada appanya "tidak! Tanpa persetujuanku appa sudah seenaknya menjodohkanku? Aku gak mau! Aku bahkan belum terbiasa dengan keadaan kota sini"


"karena kau akan terbiasa makanya appa tidak bertanya lagi padamu. Untuk apa appa bertanya kalau ujungnya juga kau tak mau. Mending langsung jadi kaupun tak bisa menolak" jiho yang mendengarnya menjadi tak lagi nafsu untuk menyantap sarapan yang ada di atas mejanya, walaupun itu masakkan eommanya yang lezat dan tak bisa ia tolak ditemani dengan lagu trot milik neneknya. Tapi siapa yang bisa makan dengan tenang kalau dirinya sudah dipenuhi perkara seumur hidup? Bahkan lagu yang indah pun ingin dijadikan kaset kusut.


Dengan tidak semangat jiho melangkahkan kakinya menuju kelas yang terbilang sudah cukup ramai untuk ukuran pagi ini. Karena dia belum punya teman.
"kau sudah mendengar berita tentangnya? Kata temanku di sekolah lain dia kemarin berada di sekitar klub malam di jalan hondongae" ucap siswa yang sedang duduk di kursi, duduk mengelilingin satu meja tidak hanya yeoja yang suka gossip tapi laki-laki juga suka mendengar rumor jadi dengan kata lain klop lah.


"tapi bisa juga lho, liat aja gayanya di sekolah seperti itu nappeun yeoja bangetkan?" cibir yeoja dengan rambut kepang "eh jangan salah katanya juga dia sering diprotes guru dan tidur di kelas berarti ketahuan sedang napain ya malamnya? Mungkinkah ia jual diri?" "SSsTT!! Orangnya lewat bodoh!" teriak yeoja kepang.


Jiho yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka memandang keluar kelas, dengan rambut dicepak dan leher sedikit merah berbalut seragam sekolah yang rapih mungkin sedang jalan ke kelas wajahnya nampak kurang tidur dan tak ada seorangpun yang jalan disampingnya untuk menemani.
"itu dia si jibyung anak kelas 11-B siapa marganya? Lee kan? Lee jibyung, siapa lagi yang tak mengenalnya? Lihat saja di lehernya tadi ada bercak merah" dan berlanjut terus dengan gossip lainnya.


Jiho mengikuti jibyung dari belakang rasa penasaran tak menutupi langkahnya ia ingin membuktikannya benarkah jibyung seperti yang mereka katakan tadi, dengan perlahan dan tidak pasti dia mengikutinya hingga sampai pada sudut belokkan ia mendapati jibyung hilang. "mwo? Apakah dia setan hilang begitu saja?"


Dan sesaat ada orang yang menabraknya dari belakang membuat yang ditabrak hampir mau copot jantungnya, apakah setan sudah menabraknya? "........ Kau mengikutiku? Siapa kau?" dengan suara agak rendah jibyung bertanya pada jiho. Jiho dengan gugup membalik tubuhnya menatap jibyung "errrr...... Apakah kau bekerja pada malam hari?"
"jadi kau bekerja sebagai detektif gitu?" balas jibyung cepat dan datar.


"inginnya sih begitu tapi sepertinya aku tak mampu, kau tau kemampuan otakku..." belum sempat jiho selesai bicara "ya dengar kau perempuan rambut cekung, jangan sampai rambut indahmu kugunting. Jangan dekat-dekat" lalu jibyung pergi meninggalkan jiho yang terpaku sendiri tersandar di tembok, ia masih mencerna setiap kata yang diucapkan jibyung padanya.


"Aku suka padamu....." kata laki-laki yang memakai kacamata, sesaat keraguannya sudah hilang dengan berani ia melontarkan kalimat itu pada jibyung. Dan jibyung yang mendengarkan kalimat itu pun berbalik menghadapnya. "kau tau sebenarnya kau sangat cantik andai kau bisa lebih banyak tersenyum. Aku ingin membuatmu tersenyum, aku juga tak percaya pada rumor jahat disekitar yang mengataimu karena aku yakin sebenarnya kau baik"


"ya mi-cheo-sseo?, kau pikir aku akan dengan mudah percaya begitu saja? Kau bahkan tak pernah berbicara denganku sekalipun setelah aku pindah ke sekolah ini semester tahun lalu dan kau berani mengatakan hal begitu? Darimana kau tau aku mempunyai sifat yang baik dan tak percaya rumor? Kau menguntitku? Atau hanya asal ngomong?" kata pedas keluar dengan mudahnya dari mulut jibyung dan pemuda kacamata pun hanya tertunduk mendengar, mungkin ada benarnya juga tapi di sudut hati lainnya berkata jibyung bukanlah orang seperti itu.


"kenapa? Mana semua pujianmu tadi? Apa sudah habis? Jangan seenaknya kau berani muncul dihadapanku lagi, sekarang pergilah" jibyung berbalik badan dan memulai lagi latihannya. Suara speaker mengalunkan musik yang bila didengarkan terlalu lama dapat memekakkan telinga, pantulan dirinya dari kaca membuat pemda tadi masih bekum bisa meninggalkan tempat. Antara rasa tidak ouas dengan kegagalannya atau memang ia mengagumi sosok jibyung yang seperti itu.


Jiho memasuki ruang latihan dance milik sekolahnya dengan keluasan seperti ini mungkin setidaknya ia biasa main voli dengan 8orang didalamnya, kaca yang mengelilingi tembok dan lampu cukup terang dan speaker yang mungkin menyimpan entah berapa lagu dan bisa dinyalakan kapan saja. Dengan langkah yang berhati-hati ia mendekati tas milik jibyung. "manisnya tas ini, dimana ya dia membelinya?" tas kecil dari kain dengan polkadot kecil merah muda menghiasi luarnya dan gantungan kunci berbentuk anjing semakin menghiasi keimutan dari tas ini apalagi ditambah renda dan tali lacenya.


"aku membelinya di pasar, ya rambut cekung kenapa kau datang lagi? Apakah otakmu batu hingga keras seperti itu?" ucap jibyung dari arah pintu masuk dan mengambil barangnya menjauh dari jiho. "pasar mana? Apakah disini ada pasar? Berarti sekali-kali kau harus mengajakku kalau mau pergi. Gmna? Otthae?" jiho duduk dan bersandar pada kaca.


"kau pergi sendiri, sudah kukatakan aku tak mau melihatmu lagi" jibyung memandang jijik pada jiho lalu membuang mukanya dan konsen pada aktifitasnya kembali.
"hey nama kita hampir sama jangan begitu dong kan? Jibyungie sunbae? aku ingin bercerita, dengar gak mau dengar tetap akan aku ceritakan. Aku ingin melampiaskan kesedihanku sementara"


Sepanjang 1jam pelajaran bebas itu jibyung bercerita tentang perjodohannya dengan lelaki yang bahkan ia tak kenal, apa alasannya, dan ini diumur yang masih sangat muda  setidaknya ia cukup lega mengetahui bukan menikah tapi masih akan bertunangan, lalu bagaimana cara ia pindah kesini karena ayahnya, belum mendapat teman. Kalau bisa ia ingin perjodohan ini dibatalkan saja, dia bukan sapi yang tak bisa cari pasangan hidup sampai harus dijodohkan. Suara musik tidak kalah nyaring dengan suara jiho bercerita bahkan suara speaker mungkin kalah nyaring. Tapi setelah diceritakan jiho merasa lebih lega dan dapat tersenyum dengan ringan sekarang.


"ya sapi, aku pulang dulu" walau kasar tapi kata sapi yang didengar jiho dari jibyung dapat membuatnya sumringah. Kalau ia tak mendengarkan kenapa dari cekung bisa berubah jadi sapi? Dan dia mengatakan pulang dulu!! Bukankah itu sudah seperti teman? Walau masih diambang bukan status teman, dengan hati yang bahagia dan jalan sedikit terlompat jiho pulang kerumahnya dan mungkin satu lagi orang baru yang harus ia gambar di buku sketsanya. 'senang' itulah yang dirasanya hari ini.


#A week later~


"appa!! Tidak! Aku tak mau! Aku tak mau pergi!" jerit seorang yeoja pada appanya siapa lagi kalau bukan jiho? Ia menolak permintaan apaanya yang menyuruhnya untuk memakai gaun baru. Ia pikir ia diberi hadiah spesial ternyata itu untuk pertemuan dengan tunangannya.
"dengarlah kata appa, apa susahnya? Kami hanya menjodohkan kalian dan tidak harus sekarang kau menikah" ucap ayah jiho sambil membenarkan dasinya.
"tapi aku tak mencintainya appa! Dan dia itu siapa?? Appa pikir dia juga akan mau dijodohkan denganku?? Apa dia tak punya yeojachingu??" nyaring suara jiho.


"jiho-yaa~ kau tak sayang nenek? Nenek sudah tua dan ingin melihat cucu. Nenek juga tak memaksamu tapi kalau ada baiknya kenapa tidak? Nenek sudah melihat orangnya dia masih muda dan baik kok" 


Karena neneklah jiho akhirnya menurut, hanya nenek satu-satunya alasan. Jiho mungkin lebih sayang neneknya dibandingkan kedua orangtuanya karena lebih sering bersama sejak kecil. Ia memandang meja rias, memandangnya dengan rinci seperti akan menerkam cermin itu jika ia sudah tak sadar bahwa didepannya hanyalah sebuah cermin. Jiho sedang berusaha untuk memendam emosinya yang tadi sudah melonjak dengan perdebatan ayahnya, kalau saja nenek tidak melerai mungkin jiho akan kabur dari rumah saat ini juga.


Berulang kali ia bercermin di kaca mungmin sudah ada 10 menit ia menata rambutnya yang tak berantakan itu terus menerus, ia terlalu khawatir dengan penampilannya di depan calon tunangannya nanti. Walau ia tak suka dengan pertunangannya tapi tampil cantik di depan orang tidak salah juga kan? Apalagi hanya untuk kepuasan diri sendiri saja.
Jiho turun dari kamarnya menuju ruang tamu dimana nenek sedang menyesap tehnya dan ayah ibu sedang berbincang sambil menonton tv.


Perjalanan yang memakan waktu hampir 25 menit ditempuh dengan mobil, sepanjang perjalanan jiho sudah memikirkan apa saja yang harus ia lakukan mungkin nanti ia harus bersikap sangat baik dan tak bodoh seperti biasanya ditambah pakaiannya yang sudah cukup anggun ini. Warna cream yang membalut tubuh mungilnya pada gaun dengan hiasan pitanya dan menonjolkan kerampingan tubuhnya, high heels kalung bunga dan rambut yang ia gerai.


"mereka memperhatikan aku, berarti benar kata nenek 'si bodoh yang cantik' nenek..... Kau jahat -__-" ucap jiho dalam hatinya, ia sadar akan kecantikannya tapi ia malu untuk menunjukkannya menurutnya tampil sederhana itu sudah cukup untuk menarik perhatian. Tidak aneh ia suka memakai baju berwarna cerah ketimbang baju hitam putih.


Walau sudah berhari-hari lewat jiho masih tidak bisa melupakan pemuda yang ia temui saat di gedung OR, akhirnya ia tau siapa namanya. Setidaknya gambaran dirinya, choi minho sunbaenya di sekolah ia pandai olahraga tapi playboy itu yang teman dikelasnya katakan. Akhirnya jiho mendapatkan teman setelah ia tersenyum pada anak prempuan dikelasnya. Ternyata tak susah dapat teman dengan cepat, kau hanya harus ramah.


"anyyeong, salam kenal aku choi minho, apakah kau choi jiho? Senang bertemu denganmu" senyum minho pada jiho. Minho duduk di seberang tempat yang jiho duduki sekarang. Disaat orangtua mereka dan nenek sedang berbincang jiho hanya bisa menganga lebar menatap yang berbicara dengannya. Seakan tak percaya pada apa yang sudah ia lihat.


Bagaimana mungkin orang yang sedang kau pikirkan setidaknya dikagumi tiba-tiba datang dan duduk didepanmu bahkan ngobrol denganmu. Tidak hanya ngobrol bahkan dialah orang yang akan ditunangkan dengan jiho. "apa yang kau pikirkan? kenapa diam saja? Ayo makan aku memesannya untukmu, mungkin kau suka, ini restoran kesukkaan ayah" ucap minho sambil tersenyum.
Dan jiho pun menatap minho dan menjawab  "katanya kau seorang playboy?"


---------


Jiho masih merutuki dirinya, mengapa bisa ia sangat bodoh bertanya seperti itu? keadaan meja makan yang sekarang ia duduki sungguh sangat runyam. Spontan setelah mendengar pertanyaan itu seluruh anggota keluarga melirik kepada minho dan jiho. Bagaimana tidak? Pas sekali jiho mengatakannya saat keadaan meja sedang sepi? tiba-tiba tawa ayah minho membludak "hahahahahaha!! Jiho ya kalau sudah sampai mengetahui hal seperti itu berarti kalian sudah sangat akrab ya? Ahjussi ingin kau merubah sikapnya"


"aigooo minho ya, lihat betapa perhatiannya tunanganmu. Ia hanya masih sangat muda jadi suka gonta ganti pacar. Ahjumma harap kalau dia sudah bersamamu dia tak seperti itu lagi" ucap ibu minho senyum menanggapi. Walau makan malam sudah selesai tapi jiho tetap tidak tenang, ia merasa amat bersalah pada minho karena sudah berucap demikian di depan keluarganya. Walau ditanggapi dengan candaan dan tawa ringan tapi tetap saja jiho masih ingin mengutuk dirinya sendiri.


Minho hanya bisa tersenyum atas sikap jiho seperti yang lain ia menanggapinya dengan santai pula "itu hanya gossip, aku bukanlah orang yang seperti itu" sambil menegak jus orangenya dan melanjutkan makan.


"mianhae aku tak bermaksud seperti itu" jiho menundukkan kepalanya masih tak berani menatap minho.


"sudah kukatakan itu hanya gossip aku juga sudah terbiasa mendengar hal itu, makanlah apa perlu kau kusuap? Hahahahhaha" canda minho.


"kalian sudah seperti sepasang kekasih saja aduh anak muda jaman sekarang sudah beda ya" timpal ibu jiho yang mendengar pembicaraan mereka.


 Setelah makan malam itu minho disuruh orangtuanya untuk mengajak jiho jalan dengan mobilnya. Sedan hitam bertuliskan BMW dikapnya itu telah dinaiki oleh dua orang. Sekadar berjalan-jalan dan mendekatkan diri mengenal satu sama lain. Ini pertama kalinya jiho menaiki mobil semewah ini. Mengenal status minho memang anak yang berkecukupan atau mampu.


Sepanjang perjalanan minho dan jiho hanya terdiam, jika tadi raut wajah minho sangat ramah sekarang berubah menjadi ekspresi ketus dan dingin. Jiho yang mengerti keadaan pun mencoba mencairkan suasana.


"kau tinggal dimana? Katanya rumahmu tak jauh dari restoran tadi"


"........"


"malam ini dingin tapi pemandangannya sangat indah bukan?"


CKITTTTTT.....


Terdengar suara mobil direm mendadak dari kecepatan yang terbilang tidak normal jika sudah terdengar suara seperti itu.


"apa kau sengaja mempermalukan aku di depan keluargaku?" tanya minho jengkel


Jiho terpaku dengan pertanyaan minho "tidak, sungguh aku hanya kelepasan bicara. Maafkan aku"


"heh? Kau pikir mudah? Untung ayah dan ibuku tidak gampang percaya dengan hal seperti itu tapi bagaimana dengan keluargamu? Belum lagi teman-teman disekolah. Sungguh aku tak bisa berpikir mendapat tunangan sepertimu"


"maaf, sungguh aku akan menjaga mulutku, aku hanya terlalu blak-blakkan" jiho tertunduk menyadari semua kesalahannya


"pertama kali kupikir akan baik jika aku mendapat tunangan tapi kalau orangnya sepertimu itu menjadi lain soal"


"apakah baik yang kau maksud adalah sifat playboymu? Jadi itu benar?"


*Greebb Minho menarik lengan jiho dengan sangat kasar membuat jiho kaget apalagi saat ia sedang tengah tertunduk seperti itu. Dapat dirasakan bibir yang basah sedang menyentuh permukaan bibir jiho, menyapu semua warna merah pada bibirnya yang mungil karena cuaca yang dingin.


Dengan kasar minho semakin mendekatkan dirinya dengan jiho memperdalam ciumannya. Jiho terbelalak kaget dan tak bisa berkutik, sesaat semua yang ada dikepalanya hilang begitu saja. Matanya melotot ketika sadar apa yang sedang bersarang di bibirnya dan itu membuatnya kesakitan apalagi dengan minho masih mencengkram erat pinggul dan lengannya.


Nafas yang memburu hampir membuat jiho sesak nafas kalau saja ia tak berusaha mendorong minho mengakhiri adegan kissing tadi, jantungnya berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya. Darahnya seakan mengalir deras mengelilingi tubuh, bekerja dengan cepat hingga ia sedikit berkeringat di telapak tangan.


"itu kali pertamamu berciuman? Hah! Parah sekali setidaknya kau harus merespon" ucap minho sebal, jiho menatap minho seolah tak percaya pada apa yang baru saja terjadi


"baiklah, aku tunanganmu dan kau tunanganku. Setidaknya tidak sekarang kau akan memberitakan itu di sekolah tunggu waktu saja sampai semua orang tahu"


"jadi kau menerimanya? Apa kau tak punya yeojachingu?"


"kalaupun aku ada, kau adalah yang ke sekian puluh mungkin jadi jangan harap"


"ya! Aku tak berharap! Aku bertanya!"


"jadi apa maumu sekarang?" Ucap minho sambil menjalankan mobilnya.


"sungguh kau sangat menyebalkan!! Setidaknya di sekolah kau tidak seperti itu!"


"kau yang tak tau aku seperti apa! Aku memang seperti ini dari sananya"


"cih, wajahmu saja tampan tapi kelakuanmu preman cap jempol kebawah"


"kau menghinaku? Kau pikir kau juga cantik?"


"kau berpikir aku akan memujimu? Begitu? Hah! Mimpi!"


Sampai didepan rumah jiho, jiho segera turun dari mobil ia muak semobil dengan minho lagi jika tidak segera turun mungkin ia akan gila. Tidak dengan ayah bahkan pada calon CALON catat! CALON (biar tegang hahahaha~) sudah adu mulut apalagi kedepannya? Dia sudah tak bisa menolak lagi tapi kalau ada cara mungkin akan ia pikirkan.


"aku mungkin akan menjemput mu setiap kita akan pergi sekolah atau yang lain, mungkin"


"aku lebih memilih naik kuda roda daripada dijemput olehmu"


"ini semua karena ayah, ibu juga menyuruhku harus baik padamu mengingat kau perempuan bukan wanita jadi-jadian"


"YA!! Pulang kau sekarang!" pukul jiho pada kaca mobil dan menunjuk minho kesal.


"kenapa kau begitu baby? Kita akan bertunangan nantinya jadi jangan terlalu kasar dong. Selamat tidur" segera minho melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan jiho yang semakin frustasi dibuatnya. Ia tertawa terbahak bahak mengingat terakhir kali melihat jiho sedang marah padanya. Wajahnya yang tak bisa ia lupakan untuk jadi bahan tawa. Ya minho tertawa.


Brak!
Suara jiho membanting kasar tubuhnya diatas kasur, masih dengan mengingat apa yang sudah ia lakukan hari ini apalagi malam hari yang ia habiskan dengan percuma di mobil minho. Dengan segera ditarik semua ucapannya tentang minho SEBELUM ia bertemu hari ini, mulai dari paras wajahnya skillnya dan sifatnya.


"tidak, bagaimanapun juga ini masterpiece yang susah payah kugambar aku tak mau merobeknya" ucap jiho memandang sketsanya dengan wajah minho setelah ia baru saja berbilas dan mengganti baju. "tapi setidaknya tak akan kubuka lagi"
Dan dengan begitu hari yang ia lewati dengan melelahkan ditutup dengan tidur . Terlalu lelah untuk marah lagi.


#sunday


Mentari sudah terbit ia bangun dari tempat tidurnya dan menyinari semua dengan cahayanya. Tapi tidak dengan jiho ia lebih memilih masih tidur sambil memeluk bantal anjing kesayangannya. Jam masih menunjukkan pukul 7:15 itulah alasannya ia lebih memilih untuk masih bergulat di ranjangnya. Apa salahnya bangun siang di saat liburan yang cuman memberi waktu seminggu sekali?


"jihonnie! Bangunlah! Minho menjemputmu!" tapi sepertinya tidak dengan ibu jiho. Disaat semua orang liburan ibunya tetap ingin beraktifitas seperti biasa mengingat dia hanya ibu rumah tangga.


"berisik eomma!! Aku mau tidur!" jiho membalik tubuhnya dan menutupinya dengan selimut, apa? Minho? Apa dia tak salah dengar? Atau ibunya yang salah bicara?


"ayah ibuku memintamu untuk mengubah sikapku tapi sepertinya sikapmu yang harus diubah, ckckckckck"


Halusinasi halusinasi jiho sangat yakin suara yang ia dengar itu hanya halusinasi tidak mungkin minho berbicara di dalam kamarnya apalagi dengan suara yang bisa dibilang dekat jaraknya.


"KYAAaaaa! Ini kamar perempuan! Kenapa kau bisa ada disini??" teriak jiho mendapati minho sudah berada di depannya sambil memegang selimut yang ia tarik dari ranjang menutupi tubuh jiho.


"lalu kau tak punya baju tidur lain gitu?" minho aneh melihat jiho yang sudah kelas 2SMA ini masih saja memakai baju yang seperti anak-anak, dimulai dari baju piyama bermotif kelinci pink dan topi tidur seperti santa warna biru. Hah? Yopi tidur? Masih jaman orang sekarang tidur memakai topi tidur? Minho menggeleng memikirkannya.


"ya!! Baiklah aku keluar!! 5nenit waktumu untuk berganti baju dan turun kebawah!" setelah dilempar jiho dengan segala tameng(?) yang ia punya dari ranjang tidsk termasuk bantal anjingnya akhirnya minho keluar dengan dengusan berat.


"minho sialan, baiklah..... Aku akan tidur dengan pintu yang terkunci kali ini"


-----------


"nde ahjumma, ini enak sekali. Ahjumma memang pandai masak" minho memuji ibu jiho. Karena mungkin ia memang lapar ia menambah nasi lagi ke dalam mangkuknya.


"hari kau mau mengajak jiho kemana?"


"mungkin ke kwangju"


"jangan pulang terlalu malam dan hati-hati di jalan ya"


"eomma!! Kenapa bisa dia ada di kamarku?? Eomma menyuruhnya naik?"


"tidak, eomma menyuruhnya untuk membangunkanmu lumayan kan?"


"jihonnie kenapa kamu seperti itu padaku? Kita akan tunangan bersikaplah lebih lembut ok?"


"tuh jiho-ya kamu jangan begitu kan kasian minho"


Jiho dengan kesal mengamit sarapannya, pagi-pagi saja minho sudah bertingkah di depan ibunya. Dengan bulatan penuh pada sendoknya ia masukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya dengan kesal.


"apakah itu cara makan seorang perempuan?"


Jiho diam ia lebih memilih tak menanggapi minho karena kalau ditanggapi pasti seperti kemarin saja, mempermalukannya. Mungkin karena ia hanya terlalu penasaran tapi tetap saja sifat jujurnya tak bisa ditutupi.


"kupikir selera pakaianmu akan sama seperti baju tidurmu"


"jalankan saja mobilnya"


"kenapa? Kau berharap aku akan mengajakmu kemana?"


Jiho menarik nafas dan melepasnya dengan perlahan sungguh ia harus bersabar, bisa cepat mati kalau terus menaggapi orang disampingnya. Setidaknya itulah anggapan jiho.


"ok ok jangan marah, kita akan ke kwangju"


"kwangju?"


--------


Jiho memandang keluar jendela, kwangju adalah tempat yang cukup ramai dan ada beberapa kantor bisnis yang dibangun disana. Ia senang minho membawanya kesini apalagi ia sudah jarang ke kwangju karena letaknya yang jauh. Minho memakirkan BMW hitamya di parkiran depan gedung yang sangat besar. Ia bersiap akan turun, jiho memandangnya bingung. Katanya mau main kenapa malah ke tempat seperti ini?


"aku ada urusan sebentar kamu mau tunggu di dalam atau luar juga terserah. Aku tak akan lama setelah ini kita baru main" lalu minho pergi memasuki gedung meninggalkan jiho di dalam mobil yang memandangnya hingga hilang dibalik pintu kaca.


15 menit waktu yang diperlukan jiho untuk menunggu minho. "apa yang kau lakukan disana?"


"hanya menyerahkan berkas kepada anah buah ayah"


"apa kau nanti akan jadi pewaris perusahaan?"


-------- to be continued.
Wait for another option <3


Akhirnya ye selese juga, suer author gk tau ini jadinya begimana. Tapi author yakin uwek-uwekka ini juga kayaknya kependekkan. Semoga pada suka, dimohon banget don't be silent karena author butuh saran dan koment kalian yang membangun.
Agak kaget juga author bisa ngebuat minho kayak gini, menurut kalian nanti mau gimana?
Keep RCL!

Your Reply